[FF] My Little Princess

littleprincess

Title         : My Little Princess
Author    : lyri
Cast         : Lee Jung-hwan atau Sandeul, Choi Yong-ri, dan Lee Hyun-woo
Genre      : Romance
Rating     : T
Length    : Oneshoot
Note        : 1) Tulisan bergaris miring–kecuali bahasa non-Indonesia–merupakan peristiwa masa lalu atau Flashback
2) Tulisan bergaris miring dan bercetak tebal merupakan khayalan cast.
3) Maafkan saya bila di FF ini banyak typo(s).
4) Thanks posternya buat Venia http://crowndenominium.wordpress.com/

**

            Suasana kelas 2 Sekolah menengah atas tempat Sandeul dan Baro tempati kini sedang ribut. Hal ini memang sering terjadi. Apalagi jika tidak ada Guru yang mengajar. Tapi tiba-tiba knop pintu bergerak. Ada seseorang yang membuka pintu, menuju kelas mereka. Dengan seketika dan tanpa diperintah kelas menjadi tenang.

Sesosok wanita berumur 30 tahunan kemudian masuk ke dalam kelas mereka. Rupanya wanita itu adalah orang yang membuka pintu tadi. Wanita itu membawa seorang gadis dengan rambut terurai panjang.

“Anak-anak, kita kedatangan murid baru,” kata wanita yang merupakan wali kelas atau lebih dikenal dengan sebutan Guru Park. “Nah, ayo kau kenalkan dirimu.” Kata Guru Park pada gadis yang katanya murid baru itu.

Annyeong haseyo! Naneun Yong-ri imnida. Aku berasal dari Busan. Aku harap kita bisa berteman dengan baik.” Kata Yongri memperkenalkan diri. Pastinya ia gugup, karena banyak sekali orang yang tidak ia kenal kecuali Jesun dan Hyunwoo sahabatnya. Diakhir perkenalannya itu ia membungkukan badan 90 derajat.

Lagi-lagi mata milik Yongri dan Sandeul saling bertemu lagi, alhasil seperti yang terjadi pertama kali, seperti muncul video masa lalu. Mereka asyik dalam pikirannya masing-masing, memikirkan ada apa yang sebenarnya terjadi.

Kejadian itu terhenti karena perkataan Guru Park, otomatis mereka tersadar dari lamunan dan kembali ke dunia asal.

Guru Park bilang, Yongri duduk di sebelah Hyunwoo karena kebetulan ia duduk sendirian. Tanpa ragu, Yongri menuju bangku Hyunwoo yang berada di sebelah kiri bangku Sandeul.

**

Seorang yeoja mendengus kecil sambil diam di depan gerbang sekolahnya. Ia tak tahu apa yang ia akan lakukan sekarang. Ya, pulang. Tapi, rasanya aneh tidak pulang bersama teman. Karena, itu merupakan kebiasaannya saat di Busan. Ditambah entah mengapa ia memang takut jika pulang sendiri.

Jesun dan Hyunwoo sedang mengikuti kegiatan tambahan tentang kesehatan, sedangkan Yongri sejak awal daftar tidak memilih kegiatan tambahan itu. Ia hanya memilih olahraga Basket, karena dulu ia pernah berkata pada seseorang di masa lalunya bahwa ia akan lebih hebat dalam permainan basket.

Dalam keadaan yang hening dan bingung ini, ada sebuah tangan menyentuh pundaknya. Secara otomatis ia berbalik ke belakang dan mendapatkan seorang yang lalu menyapanya dengan gugup.

“Hai,” kata seorang itu sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Oh iya, kenalkan namaku Sandeul. Panggil saja begitu.” Lanjutnya sambil menjulurkan tangan. Yongri pun membalas uluran tangannya–tanpa memperkenalkan dirinya lagi–sehingga mereka bersalaman. Lalu Yongri tersenyum.

“Kau belum pulang?” tanya Sandeul lalu berdiri bersebelahan dengan Yongri. Ia mengangguk, menjawab tanpa berbicara sepatah katapun. Karena Sandeul tahu kalau temannya–Jesun dan Hyunwoo–sedang ada kegiatan tambahan, jadi ia tidak aneh kalau Yongri sendirian.

Ya, setelah tadi sempat bingung dengan sosok Yongri, ia mulai mengingat seseorang. Seorang di masa lalunya. Di mana mereka saling berbagi suka dan duka. Yongri dengan marga Choi dulu adalah sahabat baiknya. Mereka saling mengerti satu sama lain dan akhirnya berpisah saat orang tua Sandeul pindah pekerjaan ke Seoul.

Tapi, Sandeul belum tahu pasti, apa itu Yongri kecilnya atau bukan. Jadi, ia berusaha mencari ‘kode’ untuk membuktikan kalau ia adalah Yongri kecilnya atau bukan. Caranya mudah, dengan mengetahui sikap dan sifatnya. Serta memberi sedikit hal yang berbau masa lalu mereka.

Mungkin ini terdengar mudah apabila Yongri merasakan apa yang dirasakan Sandeul. Tapi, akan sebaliknya apabila Yongri tidak merasakan hal yang sama.

“Oh iya, temanmu kan ikut kegiatan tambahan, ya. Memang kamu mengikuti kegiatan tambahan apa?” tanya Sandeul. Bisa dibilang ini cara pertama mencari kode itu.

“Aku ikut olahraga Basket, kau?” Dan, tepat. Seperti yang Sandeul harapkan. Olahraga Basket. Tiba-tiba munculah kembali memori masa lalunya.

Dua orang anak dengan umur yang masih dibilang masih kecil sedang asyik bermain bola basket. Walaupun tidak menggunakan teknik atau asal saja. Tentu saja, mereka masih kecil, mana mungkin mengerti memainkan bola basket dengan baik.

“Ya! Junghwan, aku ingin memasukan bola pada ring! Ayolah jangan kau terus! Giliranku kapan!” kata seorang gadis kecil dengan kesal sambil mengambil bola basket yang dipegang oleh teman namja-nya.

“Makanya kau harus jadi yang lebih hebat dari aku dan lebih tinggi dari aku!” kata namja itu sambil mengambil balik bola itu. Lalu namja itu berlari, tak mau kalau gadis kecil itu pun berlari mengejar temannya.

“Ya, Junghwan! Lihat saja nanti! Aku akan jadi yang lebih hebat daripada kau dan menjadi tinggi!” kata gadis itu sambil berteriak dan mengejar Junghwan yang lari di depannya dan malah asyik tertawa.

Dengan cepat ia mengingat memori itu, dan hal itu membuatnya yakin kalau itu adalah Yongri kecilnya. Tapi, tidak secepat itu. Mungkin saja hanya kebetulan.

“Bagaimana kalau kita latihan? Mungkin kau tertinggal sedikit pelajaran basket? Atau kita hanya sekedar latihan saja?” tanya Sandeul yang berencana mengajak latihan di rumahnya. Ini memang terdengar gila. Mengajak seseorang yang baru–mungkin–dikenalnya untuk latihan basket di rumahnya. Padahal, belum pernah ada satu teman yeoja-nya yang datang ke rumah Sandeul.

“Wah, itu bagus. Tapi, di mana?”

“Di rumahku saja.” Tanpa menunggu jawaban ya, tidak, atau yang lainnya Sandeul menarik Yongri hingga sampai di tempat parkir mobil. Tapi, Yongri menurut saja. Seolah setuju dengan pernyataannya.

Tak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi mereka sudah sampai di depan rumah yang terbilang besar dan sederhana. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah dengan suasana hening. Orang tua Sandeul sibuk bekerja, biasanya mereka pulang malam walau biasanya mereka libur beberapa hari. Sedangkan nuna-nya sedang kuliah di luar negeri.

Saat memasuki ruang keluarga terlihat foto-foto keluarga Sandeul. Tapi sayangnya foto itu foto yang baru, tepatnya setelah beberapa tahun pindah ke Seoul. Padahal jika ada foto masa lalunya siapa tahu akan memberi kode kalau Sandeul adalah Junghwan kecil seorang Yongri kecil.

Setelah sampai di halaman belakang tampak lapangan basket yang cukup luas dan ring yang tinggi. Tidak seperti saat masa kecil bermain bersama Yongri kecil, saat itu ring nya hanya setinggi mereka diumur yang masih kecil.

Dua setengah jam merupakan waktu yang cukup lama untuk latihan basket tanpa henti, tapi menjadi terasa sebentar ketika mereka saling bercanda dan merasakan hal yang telah hilang belakangan ini.

Sandeul memberikan Yongri minum, dengan senang Yongri menerimanya lalu menghabiskannya. Setelah cukup istirahat, mereka mulai berbincang sambil berjalan mengelilingi taman yang ada di rumah Sandeul.

“Kau itu perempuan tapi kau tinggi, loh.” Kata Sandeul sambil mensejajarkan dirinya dengan Yongri. Lalu, Yongri melihat perbandingan tingginya dengan Sandeul.

“Woa~ Jinja? Memang berapa tinggimu?” kata Yongri yang bahagia mendengar perkataan yang Sandeul ucapkan, ya, ‘tinggi’.

“178 cm, tinggi, kan? Kalau kau?”

“Untuk ukuran namja 178 itu tidak terlalu tinggi!” bantah Yongri sambil menjulurkan lidahnya. “Tinggiku 170 cm.” Jawab Yongri sambil tertawa.

Lagi, memori masa lalu itu datang lagi! Sandeul ingat saat ia diajak orang tua Yongri untuk jalan-jalan ke taman bermain dengan Yongri dan kedua orang tua Sandeul yang bersahabat.

Sandeul kecil tiba-tiba menghentikan ayunan yang ia mainkan dari tadi. Sedangkan Yongri masih tetap memainkannya sambil bernyanyi tidak jelas.

“Hei! Berhentilah bermain!” kata Sandeul kecil lalu turun dari ayunan yang ia duduki. Tapi, Yongri tidak mendengar perkataannya. Ia masih tetap bermain ayunan. Dan memejamkan matanya saat melayang di atas udara.

“Ish, kau senang ya bisa merasa tinggi saat kau seperti melayang di udara!” katanya lagi yang berhasil membuat Yongri kecil menghentikan permainan ayunannya.

“Enak saja! Aku ini sudah tinggi tahu! Kau saja mungkin yang pendek!” kata Yongri kecil lalu menghampiri Sandeul dan berkacak pinggang. “Nanti kalau aku sudah besar, aku pasti mencapai tinggi 170 cm!” katanya lagi dan bergaya agak sombong.

“Cih, aku pasti akan mecapai tinggi 180 cm lebih!” kata Sandeul tak kalah bergaya sombong.

“Oke, kita buktikan saja!” kata Yongri sambil mendaratkan jitakan di kepala Sandeul sehingga membuat Sandeul mengejarnya. Ya, aktivitas yang biasa dilakukan oleh dua orang yeoja dan namja kecil itu.

Baiklah, Sandeul sudah mendapatkan dua kode sekarang. Bagaimana kalau ia benar-benar Yongri? Ia benar-benar mencapai tinggi yang ia harapkan. Sedangkan Sandeul, kurang 2 cm lebih. Jika mereka sudah saling mengetahui identitas yang sebenarnya, Sandeul pasti sudah diserang oleh Yongri karena ia tidak mencapai tinggi 180 cm lebih.

Karena sudah capek latihan dan berbincang, Sandeul membawakan teh buatannya dan kue kering buatan Eomma-nya.

Setelah dipaksa, Yongri akhirnya mau memakan hidangan yang Sandeul bawa. Yongri memakan hidangan itu sambil terdiam. Entah apa yang ia rasa. Apa makanan ini terasa enak? Atau hal lain? Sandeul bertanya-tanya tentang hal itu. Yang ia inginkan, ia mengingat memori saat dahulu, pertama kali ia diberikan teh dan kue kering buatan Eomma Sandeul.

Saat itu hari sedang hujan dan terdengar suara ketukan pintu di rumah Sandeul. Dengan segera Eomma Sandeul membukakan pintu itu, karena dijauh hari sahabat Nyonya Lee sudah merencanakan akan berkunjung ke rumah Sandeul. Berkunjung setelah lama tidak  bertemu.

Benar saja ia adalah sahabat Nyonya Lee. Setelah membersihkan diri, mereka diberikan teh hangat dan kue kering. Yongri sangat menyukai kue keringnya.

Setelah sudah kenyang makan, Yongri berkenalan dengan anak Nyonya Lee. Baru saja kenal beberapa menit, ternyata mereka sudah akur. Ya, mungkin bisa dibilang seperti adik dan kakak.

Karena hari sudah sore, Yongri memutuskan untuk pulang dengan diantar oleh Sandeul. Tapi, Sandeul tidak mengantar sampai depan rumahnya karena dibantah oleh Yongri. Ia bilang ia ingin diturunkan di tiga rumah sebelum rumahnya. Walau Sandeul memaksa untuk mengantar sampai di depan rumah, tapi tetap saja tidak berpengaruh. Jadi, ia menurut saja apa yang Yongri katakan.

**

Sandeul mulai membuka matanya yang baru saja bangun tidur. Lalu, ia melihat jam yang ada di samping ranjangnya dan mulai bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tidak seperti biasanya, ia lambat.

Ia begitu karena ingin mencari kode lainnya. Yongri kecilnya itu selalu datang pagi-pagi ke sekolah, walaupun ia selalu bangun siang. Jadi, ia akan melihat apakah Yongri yang dikenalnya itu datang pagi atau tidak.

Setelah sampai di sekolah ia langsung menuju kelasnya, yang pasti kelas masih sepi. Benar saja, di luar kelas sudah ada Yongri yang sedang berbincang dengan kelas tetangga. Ia memperhatikan namja yang sedang berbincang dengan Yongri.

Ada perasaan tidak suka, saat melihat Yongri berbincang dan tertawa bersama namja lain. Sandeul memperhatikan namja itu dari atas kepalanya hingga bawah. Ternyata, dia adalah Lee Hyun-woo.

Langsung saja, Sandeul menghampiri mereka dan menyapanya, “Hai, apa yang sedang kalian lakukan?”

“Tidak ada.” Kata Hyunwoo sambil menatap Sandeul sebal.

“Kalian sedang membicarakan apa? Aku boleh ikut?” tanya Sandeul lagi. Sebenarnya pertanyaan ini hanya ditujukan untuk Yongri.

“Bukan apa-apa.” Kata Hyunwoo lagi. Yang membuat Yongri dan Sandeul tertawa di dalam hatinya.

**

Waktu sudah menunjukan waktu masuk. Guru pun sudah masuk ke dalam Sandeul. Guru Kim sebutannya. Ia masuk lalu duduk dan langsung memberikan tugas.

“Oke, kalian harus membuat laporan tentang salah satu tempat wisata di negara kita ini, dan menyusunnya dalam dua bahasa. Yang pertama bahasa yang kita pakai dan bahasa internasional. Tugas dikumpulkan satu minggu dari sekarang. Sedangkan kelompok, aku tentukan sendiri.” Jelas Guru Kim panjang lebar. Ya, guru yang tanpa basa-basi masuk dan memberikan tugas begitu saja dengan jangka waktu yang sangat sebentar.

Satu kelompok terdiri dari dua orang, satu orang perempuan dan satu lagi laki-laki. Kebetulan sekali, Sandeul mendapatkan kelompok bersama Yongri. Sehingga ia tersenyum mengenang masa lalunya.

Dua orang anak kecil sedang belajar bahasa inggris. Pengajarnya adalah saudara dari keluarga gadis kecil. Mereka asyik belajar dan saling bertanya jawab tentang kata kerja dalam bahasa inggris yang sangat mudah dan sederhana. Tapi, tidak dengan Sandeul.

“Ya! Aku selesai. Aku tidak mau belajar lagi. Ini semua sangat sulit.” Kata Sandeul sambil mengerucutkan bibirnya. Daritadi saat bermain tanya jawab, Sandeul kalau skor dengan Yongri. Perbandingan skornya adalah 1:4 lumayan jauh, kan?

“Kau itu licik! Jangan mentang-mentang kalah kau selesai!” kata Yongri yang selalu menang dalam permainan itu.

“Kau yang licik! Mentang-mentang menang kau mau terus bermain!” kata Sandeul sambil menjulurkan lidahnya sehingga membuat Yongri memukul Sandeul. Dan pada akhirnya, mereka bertengkar kecil. Pengajar itu hanya tertawa melihat mereka, tanpa menolongnya.

Setelah bel tanda pulang berbunyi, murid-murid rajin ini langsung mulai menyusun laporan tersebut. Begitu juga dengan Sandeul.

“Kita akan melaporkan tentang Namsan Tower saja.” Kata Sandeul pada Yongri.

“Bukankah itu terlalu mudah?”

“Setidaknya, itu lebih baik. Karena, semakin mudah maka semakin banyak informasi yang kita dapat.”

Di hari pertama, mereka langsung menentukan objek dan berkunjung ke sana. Setelah sampai, mereka langsung menelitinya. Mereka menuliskan laporan sementara di buku catatan. Sandeul menulis memakai Bahasa Korea, sedangkan Yongri dengan lancarnya men-translate ke bahasa Inggris, sehingga membuat Sandeul tersenyum dan semakin yakin kalau yeoja yang ada di sampingnya itu adalah puteri kecilnya.

Ingin rasanya Sandeul memberitahu pada Yongri bahwa ia adalah Lee Jung Hwan sang Pangeran Bebek.

“Sandeul, kau lucu sekali!” kata Yongri sambil mencubit pipi Sandeul gemas.

“Tentu saja!” kata Sandeul percaya diri. Ia pikir Yongri benar-benar memujinya.

“Lucu sekali! Mirip dengan bebek itu!” kata Yongri sambil menunjuk pada sekumpulan bebek.

Sandeul yang merasa diejek itu mengerucutkan bibirnya sehingga membuat Yongri tertawa puas. “Tapi aku bebek yang paling tampan, kan?” kata Sandeul dengan polosnya. Dan lagi tawa Yongri semakin menjadi. Sandeul tidak tinggal diam, ia langsung menarik rambur panjang Yongri. Tapi, dengan segera Yongri menghindar sehingga Sandeul berusaha mengejar Yongri yang belum lari jauh.

Tapi, Sandeul pikir sekarang bukanlah waktu yang tepat. Sebaiknya ia memberitahunya nanti, saat mereka sudah semakin dekat. Dan Sandeul ingin tahu bagaimana seorang Yongri saat berinteraksi dengan orang lain. Bukannya melanjutkan penelitian, Sandeul malah berkhayal tentang bagaimana jika ia memberitahu Yongri sekarang.

“Hm, Yongri.” Panggil Sandeul dengan keadaan menunduk. Yongri yang merasa dipanggil pun secara otomatis mencari sosok Sandeul. “Aku Lee Jung-hwan, kau ingat aku? Seseorang yang kau bilang mirip bebek?” lanjut Sandeul sambil berharap.

Yongri tampak berpikir. Tak lama kemudian ia memeluk Sandeul dan membisikan suatu kata, “Aku tahu siapa kamu. Saranghae.”

Ya, itu memang khayalan yang sangat buruk dan tidak masuk akal. Sandeul menundukan kepalanya dan tertawa. Rasanya sulit sekali menahan tawa itu. Yongri yang daritadi memperhatikan Sandeul itu merasa aneh. Tersenyum sendiri dan tertawa sendiri, itu yang dari tadi Yongri lihat.

Setelah puas tertawa, Sandeul kembali lagi ke alam sadarnya dan melihat Yongri yang sedang memperhatikannya. Sandeul melambaikan tanggannya seolah menghilangkan rasa malu itu. Dengan tatapan aneh, Yongri kembali lagi dengan pekerjaannya tadi.

Tak terasa, hari sudah menunjukan pukul lima sore. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang dan melanjutkan besok di rumah Sandeul.

**

Sesuai janji kemarin, Sandeul dan Yongri akan melanjutkan tugas di rumah Sandeul. Tapi, lima menit setelah bel tanda pulang berbunyi. Yongri belum juga mengunjungi Sandeul di tempat parkir.

Karena lama, Sandeul memutuskan untuk kembali ke kelas dan ia melihat Lee Hyun-woo berjalan dengan arah berlawanan. Sandeul mempunyai firasat yang tidak baik, sehingga ia langsung berlari menuju kelasnya, begitu juga dengan Hyunwoo.

“Yongri!” panggil dua namja itu sambil saling menghalangi satu sama lain untuk masuk ke dalam kelas.

Yongri berbalik dan menemukan dua orang yang memanggilnya itu. Sebelum menghampiri mereka, Yongri pamit pulang duluan pada dua sahabatnya.

“Ayo kita berangkat!” kata Hyunwoo sambil menarik Yongri keluar kelas.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Aku ada janji dengannya!” kata Sandeul protes.

Hyunwoo pun memastikan itu pada Yongri. Dan pada akhirnya Hyunwoo melepaskan Yongri dan membiarkan ia pergi bersama Sandeul karena kebenaran dari Yongri.

“Baiklah, besok kita bertemu, ya!” kata Hyunwoo lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Sandeul menatap Hyunwoo tidak senang lalu pergi menuju rumahnya.

Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di rumah Sandeul. Sejak pertama kali masuk rumahnya Yongri ingin menanyakan satu hal, “Apa itu lukisan buatanmu?”. Namun, entah kenapa rasanya sulit sekali berbicara hal sederhana seperti itu.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengerjakan tugas, akhirnya mereka memilih untuk beristirahat dahulu. Yongri pikir, ini adalah waktu yang tepat tentang pertanyaan yang selalu ada di pikirannya itu.

“Sandeul, apa itu lukisan buatanmu?” ya, akhirnya ia bisa mengucapkan kalimat itu. Secara otomatis, Sandeul melihat ke arah lukisan yang Yongri maksud. Sebuah lukisan mobil dengan background tak jelas buatan anak yang diperkirakan berumur lima tahun-an, itu lah lukisan yang Yongri maksud.

Sandeul mengangguk mantap. Lalu ia berkata, “Lukisan itu tampak aneh. Baiklah, itu lukisan saat aku berumur sekitar lima tahun.” Jawab Sandeul. Yongri hanya bisa mengangguk sambil terus memperhatikan lukisan itu, entah karena bagus atau mempunyai arti tersendiri baginya.

“Hei, tunggu di sini. Aku akan mengambil alat untuk melukis, aku akan melukismu!” kata Sandeul, ia teringat sesuatu tentang little princess-nya lagi, sehingga ia berani berkata seperti itu.

Dua orang anak sedang asyik bermain di taman belakang keluarga Choi. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Seorang namja kecil sedang melukis sebuah mobil tanpa melihat pada objek, sedangkan seorang yeoja kecil sedang memperhatikan lukisan itu.

“Woa~ lukisanmu bagus sekali!” puji Yongri. Kali ini ia sungguhan memuji Sandeul kecil. Ya, bagi anak kecil yang belum tahu apa-apa itu mungkin lukisan itu bisa terbilang bagus.

“Junghwan memang hebat!” kata namja itu membanggakan diri. Sehingga muncul rasa sedikit menyesal dari si yeoja kecil.

“Cih, baru dipuji begitu saja sudah sombong. Aku akan lebih mengakui kepandaian mu dalam melukis kalau kau bisa melukis aku yang sedang duduk sambil memandang awan!” kata Yongri sambil menirukan gaya yang ia sebutkan tadi.

“Baiklah, nanti kalau aku sudah besar aku akan melukiskanmu!” kata Sandeul kecil berjanji. Janji yang masih ia ingat sampai sekarang, tapi apa Yongri kecil mengingat janji itu?

Kini mereka sudah berada di taman, sesuai dengan perkataan Yongri yang membuat Sandeul terkejut. “Aku ingin kau melukisku saat aku duduk di taman belakang rumahmu sambil melihat awan.” Seperti itu yang Yongri katakan. Tidak salah lagi, ia memang beanr-benar Yongri kecilnya!

Dengan penuh hati-hati Sandeul menggoreskan kuasnya sedikit demi sedikit, ia berharap lukisan ini dapat sesuai dengan bentuk aslinya walau tanpa latihan. Ya, ia belum pernah berlatih lagi saat pindah ke Seoul.

Harapan Sandeul terkabul. Ia dapat membuat lukisan itu sesuai bentuk real, walau tak begitu real. Selain itu, ia menyelesaikan dengan waktu yang singkat. Ia langsung memberitahu Yongri ketika lukisannya itu sudah jadi.

“Woa~ lukisan itu bagus sekali! Aku harus bayar berapa untuk ini?” kata Yongri sambil tertawa. Seandainya mereka masih seperti dulu, Sandeul pasti akan membanggakan dirinya karena telah memenuhi janjinya. Tapi, ia berusaha menahannya dahulu.

“Oke, ice cream and choco time!” kata Sandeul sambil menarik Yongri menuju dapur. Lalu, ia mengambil tiga mangkuk ice cream dan tiga batang coklat.

“Waa~ dari mana kau tau kalau aku sudah dua makanan ini?” kata Sandeul. Bagaimana Sandeul lupa pada hal yang disukai oleh Yongri kecilnya? Lebih tepatnya seorang yang disukai oleh Sandeul.

“Sandeul kan hebat.” Kata Sandeul lalu tertawa.

Saat itu, Nyonya Lee dan Nyonya Choi sedang berbelanja bersama. Tidak lupa, mereka mengajak anaknya.

Tepat di tempat coklat, Yongri terus melompat menjangkau cokelat berukuran besar yang terletak di atas. Tapi sayang, ia masih saja tidak dapat mengambil cokelat itu. Tapi, pada akhirnya Nyonya Choi mengambilnya cokelat yang ia maksud.

“Aku mau satu lagi.” Kata  Yongri tanpa perasaan malu.

“Mwo? Kau serakah sekali, untuk aku saja!” kata Sandeul sambil berusaha mengambil cokelat yang dipegang Nyonya Choi.

“Biar saja, lagipula aku sangat menyukai cokelat.” Kata Yongri lalu menjulurkan lidahnya pada Sandeul. Nyonya Lee hanya bisa tertawa melihat kedua anak itu sangat akrab.

Ya, bukan Sandeul namanya kalau ia tidak menjahili Yongri. Ia mengambil dua coklat dan dua ice cream yang ada di keranjang Yongri. Sehingga saat Yongri menyadarinya, ia mencari ke mana cokelat dan ice creamnya pergi. Sementara di sisi lain, Sandeul tengah tertawa penuh kemenangan. Kapan lagi ia bisa mengerjai Yongri? Ya, ini kesempatan menurutnya.

**

Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, seharusnya jam pelajaran pertama sudah dimulai. Tapi, entah karena apa, tidak ada guru yang masuk. Sampai suatu saat ada suara ketukan pintu.

Kelas yang tadinya ribut, berubah menjadi tenang. Tapi, setelah mereka tahu yang masuk adalah anggota organisasi sekolah, mereka kembali berisik. Suasana tidak tenang itu hanya berlangsung sebentar, mereka berhenti berbicara saat anggota organisasi itu bilang kalau hari ini adalah hari libur. Siapa pelajar yang tidak menyukai waktu libur saat mereka mempunyai banyak tugas?

Setelah diberikan intruksi semua murid segera mengosongkan kelas. Di depan pintu, sudah ada seorang Lee Hyun-woo. Ia sedang menunggu Yongri keluar dari kelas.

Yongri dan Hyunwoo segera pergi dari kawasan sekolah dan menuju Namsan Tower. Sesuai rencana yang sudah dipikirkan tadi malam, Sandeul mengikuti mereka layaknya sedang melakukan pekerjaan sebagai mata-mata.

Sudah lama, Yongri dan Hyunwoo hanya diam saja sambil memandangi kota Seoul. Sandeul ingin pergi dari tempat persembunyiannya dan segera pulang, tapi entah kenapa ada firasat buruk yang membuatnya tidak jadi pergi.

Benar saja, tak lama kemudian Hyunwoo menyentuh tangan Yongri. Hal ini tentu membuat Sandeul tidak tahan dengan pemandangan ini. Yongri yang merasa tangannya disentuh berbalik ke arah Hyunwoo.

“Yongri. Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Apakah kau mau jadi yeojachingu­-ku?” ya, ternyata ia menyatakan perasaan yang telah ia pendam. Perasaan yang baru saja baru terjadi apabila dibandingkan dengan Sandeul.

Yongri tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa. Apa di hatinya telah ada seseorang? Seseorang di masa lalunya? Atau ia diam karena ia malu untuk menjawab ‘iya’ atau hal lainnya? Yang pasti, Sandeul tidak tahan dengan keadaan ini. Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan memeluk Yongri.

Tentu saja, Hyunwoo dan Yongri terkejut. Tanpa memikirkan Hyunwoo, Sandeul berbicara pada Yongri, berharap ia berkata hal yang sama. “Yongri! Ini aku! Junghwan, Lee Junghwan. Seseorang dari masa kecilmu yang berharap mempunyai tinggi 180 cm, malas belajar bahasa Inggris, dan yang kau bilang mirip bebek. Aku bebek yang paling tampan yang pernah ada!” kata Sandeul secara cepat.

Hyunwoo yang sebal melihat perilaku itu langsung pergi meninggalkan mereka, ia berharap Yongri memanggilnya. Namun, harapannya itu hanya sekedar harapan. Yongri tidak memanggilnya, ia hanya diam tidak tau harus apa.

Saat Hyunwoo mulai tak terlihat, Yongri mulai menjawab perkataan Sandeul tadi. “Ya! Ini benar-benar kau? Kau masih ingat pada seseorang yang berharap mencapai tinggi 170 cm, berharap ingin lebih hebat bermain bola basket, menyukai cokelat, ice cream, kue buatan ibumu! Ya! Ini aku! Choi Yong-ri!” kata Yongri dengan perasaan bahagia bercampur sedih dan rindu.

Ternyata, tebakan Sandeul memang benar. Dia adalah puteri kecilnya. Puteri yang dari dulu ia sukai, bahkan sampai sekarang ia tetap menyukai dan hafal apapun yang ia sukai.

“Apakah puteri menerima pernyataan cinta dari seekor panger bebek tampan? Saranghae.” kata Sandeul yang artinya sama dengan yang Hyunwoo katakan tadi.

“Mana mungkin seorang puteri mau berpacaran dengan seekor kodok yang pendek?” kata Yongri sambil tertawa. “Tapi, untuk puteri yang ini. Hm, rasanya ia mau jadi yeojachingu-nya. Nado saranghae.” Kata Yongri masih sambil tertawa. Ya, Sandeul sudah tahu jawaban ini. Ia tahu, pasti ia akan menerimanya. Seoarang puteri berpacaran dengan pangeran bebek pendek yang tampan? Itu hal unik, kan?

Sandeul mencubit pipi Yongri gemas, seperti apa yang Yongri lakukan dahulu saat Yongri bilang ia mirip bebek. Bukan Yongri namanya kalau ia tak memberi perlawanan pada Junghwan, ia berusaha mendaratkan jitakan pada kepala Sandeul. Tapi, ia berusaha kabur. Sehingga terjadilah peristiwa yang dahulu sering terjadi. Bersenang-senang sambil mengenang masa lalu, itulah yang mereka lakukan setelah acara kejar-kejar itu.

END

Terimakasih buat yang udah mau baca FF ini^^

Advertisements

One thought on “[FF] My Little Princess

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s